Tulisan ini disusun oleh Christanti Agustina, SP (136040300111002) sebagai laporan kunjungan lapangan MK. Manajemen Kesehatan DAS Program Master Pengelolaan Tanah dan Air (PTA) FP-UB di bawah bimbingan Ir. Sri Sudaryanti, M.Sc.

 

Biomomitoring adalah monitoring kualitas air secara biologi yang dilakukan dengan melihat keberadaan kelompok organisme petunjuk (indikator) yang hidup di dalam air. Kelompok organisme indikator yang biasa digunakan antara lain: plankton, periphyton, mikrobentos, makrobentos, makrophyton, dan nekton. Kelompok tersebut digunakan dalam pendugaan kualitas air karena dapat mencerminkan pengaruh perubahan kondisi fisik dan kimia yang terjadi di perairan dalam selang waktu tertentu. Namun, metode ini memiliki beberapa kelemahan, yaitu: i). tidak dapat mengindentifikasi penyebab terjadinya perubahan yang terjadi; ii). hasil pendugaan menunjukkan kualitas air secara ekologi tetapi tidak dapat menunjukkan adanya bahan pathogen atau organisme berbahaya lainnya; dan iii). hanya dapat dilakukan oleh orang yang mengerti tentang biologi perairan ataupun orang yang telah dilatih, karena harus mengidentifikasi secara taksonomi kelompok-kelompok organisme indikator. Sehingga untuk mendapatkan hasil pengukuran kualitas air yang akurat perlu dilakukan monitoring kualitas air secara fisiko-kimia dan biologi. Untuk mengatasi salah satu permasalahan yang telah disebutkan di atas, maka dalam kegiatan ini dilakukan praktek bagi mahasiswa program pengelolaan tanah dan air agar dapat melakukan identifikasi organisme indikator kualitas air.

Praktek lapangan pengukuran kualitas air secara biologi dilakukan di 2 lokasi, yaitu yaitu Arboretum di Sumber Brantas dan Sungai Kekep, di Dusun Kekep. Alat dan bahan yang digunakan antara lain: jaring (drift net dengan ukuran mesh 500 µm), pinset, botol sampel, baki atau nampan, spidol, dan alkohol 70%. Metode “kicking” sepanjang 10 meter digunakan untuk proses pengambilan sampel air dan makro invertebrata yang tinggal di lingkungan air. Pengambilan sampel dilakukan sebelum ada orang yang masuk ke dalam sungai dan dilakukan berlawanan arah dengan aliran sungai (dimulai dari hilir dan diakhiri di hulu). Aduk-aduk air di badan sungai menggunakan kaki, termasuk menggoyang-goyangkan bebatuan di dasar sungai, karena makro invertebrata banyak dijumpai di sela-sela batu atau di bawah batu. Sampel air yang telah diambil kemudian diidentifikasi keberadaan makro invertebrata yang berada di habitat perairan tersebut. Kemudian masing-masing makro invertebrata diidentifikasi sebagai indikator kualitas air menurut tingkat cemarannya menggunakan Tabel 1.

 

Tabel 1. Makroinvertebrata indikator untuk menilai kualitas air (Trihadiningrum, Y. & I. Tjondronegoro, 1998)

Tingkat Cemaran

Makro invertebrata (makrozoobentos) indikator

1. Tidak tercemar Trichoptera (Sericosmatidae, Lepidosmatidae, Glossosomatidae); Planaria
2. Tercemar ringan Plecoptera (Perlidae, Peleodidae); Ephemeroptera (Leptophlebiidae, Pseudocloeon, Ecdyonuridae, Caebidae); Trichoptera (Hydropschydae, Psychomyidae); Odonanta (Gomphidae, Plarycnematidae, Agriidae, Aeshnidae); Coleoptera (Elminthidae)
3. Tercemar sedang Mollusca (Pulmonata,Bivalvia); Crustacea (Gammaridae); Odonanta (Libellulidae, Cordulidae)
4. Tercemar Hirudinea (Glossiphonidae, Hirudidae); Hemiptera
5. Tercemar agak berat Oligochaeta (ubificidae); Diptera (Chironomus thummiplumosus); Syrphidae
6. Sangat tercemar Tidak terdapat makrozoobentos. Besar kemungkinan dijumpai lapisan bakteri yang sangat toleran terhadap limbah organik (Sphaerotilus) di permukaan

 

Hasil pengukuran lapangan menunjukkan bahwa kehidupan biota air di Arboretum maupun di Sungai Kekep sudah terganggu, sehingga di kedua tempat tersebut kualitas air secara biologi adalah tidak sehat (Tabel 2). Kondisi ini ditunjukkan dengan banyaknya invertebrata sebagai indikator kualitas sungai terganggu sebanyak 6 spesies (Tipulidae, Simulidae, Hydropsychidae, Policentridae, Plantambus, dan Epemeroptera) dan invertebrata sebagai indikator kualitas air tercemar sebanyak 3 spesies (Baetidae, Chironomidae, dan Tubificidae/cacing). Spesies Chironomidae yang dijumpai berwarna merah, hal ini merupakan bentuk adaptasi Chironomidae untuk mengambil oksigen di air, semakin sedikit jumlah oksigen di perairan maka warnanya akan semakin merah.

 

Tabel 2. Biota air sebagai indikator kualitas DAS di Arboretum dan Kekep

Lokasi

Sehat/Baik

Terganggu

Tercemar

Arboretum LepidosmatidaePlanaridae

 

TipulidaeSimulidae

Hydropsychidae

Policentridae

Plantambus

Epemeroptera

BaetidaeChironomidae

Tubificidae/cacing

Kekep Planaridae TipulidaeSimulidae

Hydropsychidae à lebih banyak drpd di Arboretum

BaetidaeChironomidae

 

 

Kondisi sungai di Arboretum telah mengalami perubahan dari kondisi alami sungai. Pelurusan sungai dan perkuatan tebing sungai (plengsengan) di kanan-kiri sungai dengan beton telah merusak habitat biota air sungai di Arboretum. Berbeda halnya dengan kondisi sungai di Kekep. Sungai di Kekep berada di bagian tengah DAS Sumber Brantas. Bagian atas Sungai Kekep adalah kawasan wanawisata Talun yang telah dilakukan penambangan pasir dan batu. Kegiatan penambangan ini menyebabkan habitat biota air menjadi terganggu dan hanya meninggalkan lumpur yang jika terjadi hujan deras akan hanyut dan mengalir ke Sungai Kekep.

 

IMG_5895  IMG_5896

Gambar 1. Kondisi sungai di Arboretum

IMG_5892  IMG_5887

Gambar 2. Kondisi sungai di bagian hulu Sungai Kekep (wana wisata talun)

 

Adanya perbedaan kondisi sungai tersebut menyebabkan kualitas air sungai di Arboretum masih lebih baik daripada di Sungai Kekep. Lepidosmatidaea sebagai indikator kualitas air yang sehat/baik masih banyak dijumpai di Arboretum. Lokasi Arboretum yang berada di hulu menyebabkan kondisi air masih jernih meskipun habitat biota sudah terganggu karena adanya jalan air buatan dan plengsengan yang merusak habitat biota. Selain itu, populasi Hydropsychidae secara kualitatif lebih banyak di Sungai Kekep daripada di Arboretum. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas air di Sungai Kekep berada di bawah Arboretum, artinya sungai di Arboretum kondisinya lebih baik daripada di Sungai Kekep.

Makro invertebrata yang ditemukan sebagai indikator kualitas air tercemar adalah Baetidae, Chironomidae, dan Hydrospychidae. Baetidae merupakan makro invertebrata sebagai indikator air tercemar. Spesies ini banyak ditemukan di perairan pertemuan arus deras dan arus lambat. Larva Chironomidae dapat hidup tanpa oksigen selama 280 hari (anonym dalam www.entomologi). Berdasarkan kualitas perairan, khususnya perairan air tawar, family Chiromomidae ditemukan sebagai spesies indikator untuk perairan kualitas buruk (Hoffman dalam Ardi, 2002). Chironomidae merupakan organisme paling umum ada di seluruh habitat air, dan sering mendominasi komunitas insekta air dalam kondisi berlimpah dan memiliki ketahanan individu terhadap kondisi air yang telah terganggu (Ferrington, 2008; Heino & Paasivirta, 2008; Raunio et al., 2011). Adanya Chironomidae di perairan menunjukkan adanya pengaruh manusia pada habitat biota di sungai (Raunio et al., 2011). Semakin banyak populasi Chironomidae yang dijumpai di perairan, maka mengindikasikan banyak sampah organik yang telah dibuang di sungai. Sampah ini dapat berupa sampah MCK yang dibuang di sungai, kotoran sapi, sampah rumah tangga, maupun adanya perendaman kayu di sungai. Hydropsychidae merupakan salah satu invertebrata air tawar sebagai indikator kualitas air yang tahan terhadap air yang telah tercemar atau terkontaminasi oleh polutan. Makro invertebrata ini hidup tahan terhadap arus air yang deras dengan cara melekatkan diri pada permukaan batu atau cadas.

IMG_5912

Gambar 3. Kondisi Sungai Kekep

 

Berdasarkan kondisi tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa kualitas air sungai di DAS Sumber Brantas (diwakili di Arboretum dan Kekep) telah mengalami pencemaran. Tingkat pencemaran tinggi terjadi di Sungai Kekep. Pencemaran air dipengaruhi oleh aktivitas manusia berupa pembuangan sampah-sampah organik di sungai, antara lain pembuangan saluran MCK, sampah rumah tangga, kotoran sapi, maupun kayu-kayu yang terendam di sungai.

 

 

Daftar Pustaka

Anonim. (tanpa tahun). There is Little Oxygen in Ocean Water. http://www.entomolpgy.uml.edu/…/oxygen_problem.html [13 Juni 2014]

Ardi, 2002. Pemanfaatan Makrozoobentos sebagai Indikatoro Kualitas Perairan Pesisir. http://www.tumoutou.net/702-04212/ardi.htm-125k. [13 Juni 2014]

Ferrington JR., L. C. 2008. Global diversity of non-biting midges (Chironomidae; Insecta-Diptera) in freshwater. Hydrobiologia, Vol. 595, n. 1, p. 447-455.

Heino, J. & Paasivirta, L. 2008. Unravelling the determinants of stream midge biodiversity in a boreal drainage basin. Freshwater Biology, Vol. 53, n. 5, p. 884-896.

Raunio, J., Heino, J., & Paasivirta, L. 2011. Non-biting midges in biodiversity conservation and environmental assessment: Findings from boreal freshwater ecosystems. Ecological Indicators, v. 11, n. 5, p. 1057-1064.

Trihadiningrum, Y. & I. Tjondronegoro. 1998. Makroinvertebrata sebagai bioindikator pencemaran badan air tawar di Indonesia: Siapkah kita ?. Lingkungan & Pembangunan 18(1): 45 – 60